Jangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

Posted: 19 January 2013 in Uncategorized

Kebanyakan manusia yang hidup di jaman
sekarang ini, menjadikan barometer dalam
menilai hal-hal yang terjadi di sekitarnya dengan
perkara-perkara lahir yang nampak dalam
pandangan mereka, sebagai akibat dari kuatnya
dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa
dunia dalam diri mereka.
Mereka lalai dari memahami hakekat semua
kejadian tersebut, karena mereka tidak memiliki
keyakinan yang kokoh terhadap perkara-perkara
yang gaib (tidak nampak) dan lupa pada
kehidupan abadi di akhirat nanti.Allah Ta’ala berfirman:
{ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻫﻢ
ﻏﺎﻓﻠﻮﻥ}
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak)
dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS ar-Ruum:7)
.
Sebagai contoh nyata dalam hal ini, memahami
arti “kerusakan di muka bumi” yang sebenarnya.
Sementara ini, banyak orang, tidak terkecuali
kaum muslimin, yang mengartikan “kerusakan di
muka bumi” hanya sebatas pada hal-hal yang
nampak, seperti bencana alam, kebakaran,
pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit
menular dan lain sebagainya.
Mereka melupakan kerusakan-kerusakan yang
tidak kasat mata, padahal ini adalah kerusakan
yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan
kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya
kerusakan-kerusakan “lahir” di atas.
Arti “kerusakan di muka bumi” yang
sebenarnya
Allah Ta’ala berfirman,
}ﻇﻬﺮ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺮ ﻭﺍﻟﺒﺤﺮ ﺑﻤﺎ ﻛﺴﺒﺖ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻟﻴﺬﻳﻘﻬﻢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻤﻠﻮﺍ ﻟﻌﻠﻬﻢ ﻳﺮﺟﻌﻮﻥ{
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan
disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)
[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS
Ar Ruum:41).
Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala
menyatakan bahwa semua kerusakan yang
terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya,
penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan
maksiat yang dilakukan manusia. Maka ini
menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah
inti “kerusakan” yang sebenarnya dan
merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan
yang tampak di muka bumi.
Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyaahi[2] berkata,
“Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di
muka bumi maka (berarti) dia telah berbuat
kerusakan padanya, karena perbaikan di muka
bumi dan di langit (hanyalah dicapai) dengan
ketaatan (kepada Allah Ta’ala)” [3].
Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di
atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan
bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah
sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam
semesta” [4].
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:
}ﻭﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻜﻢ ﻣﻦ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻓﺒﻤﺎ ﻛﺴﺒﺖ ﺃﻳﺪﻳﻜﻢ{
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu
maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)
mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar
(dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-
Syuura:30).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan
ayat ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala
memberitakan bahwa semua musibah yang
menimpa manusia, (baik) pada diri, harta
maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang
mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah
perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang
pernah mereka lakukan…” [5].
Tidak terkecuali dalam hal ini, musibah dan
“kerusakan” yang terjadi dalam rumah tangga,
seperti tidak rukunnya hubungan antara suami
dan istri, serta seringnya terjadi pertengkaran di
antara mereka, penyebab utama semua ini adalah
perbuatan maksiat yang dilakukan oleh sang
suami atau istri.
Inilah makna yang diisyaratkan dalam ucapan
salah seorang ulama salaf yang mengatakan,
“Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah,
maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan
maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…” [6].
Oleh sebab itu, Allah menamakan orang-orang
munafik sebagai “orang-orang yang berbuat
kerusakan di muka bumi”, karena buruknya
perbuatan maksiat yang mereka lakukan dalam
menentang Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,
}ﻭﺇﺫﺍ ﻗﻴﻞ ﻟﻬﻢ ﻻ ﺗﻔﺴﺪﻭﺍ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﻤﺎ ﻧﺤﻦ
ﻣﺼﻠﺤﻮﻥ، ﺃﻻ ﺇﻧﻬﻢ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﻭﻥ ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﺸﻌﺮﻭﻥ{
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah
kamu membuat kerusakan di muka bumi,”
mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-
orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang
membuat kerusakan, tetapi mereka tidak
sadar” (QS al-Baqarah:11-12).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata,
“Melakukan maksiat di muka bumi (dinamakan)
“berbuat kerusakan” karena perbuatan tersebut
menyebabkan rusaknya apa yang ada di muka
bumi, seperti biji-bijian, buah-buahan,
pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, karena
terkena penyakit yang disebabkan perbuatan
maksiat. Demikian juga karena melakukan
perbaikan di muka bumi adalah dengan
memakmurkan bumi dengan ketaatan dan
keimanan kepada Allah, yang untuk tujuan inilah
Allah menciptakan manusia dan menempatkan
mereka di bumi, serta melimpahkan rezeki
kepada mereka, agar mereka menjadikan
(nikmat tersebut) sebagai penolong mereka
untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah
kepada Allah, maka jika mereka melakukan
perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan
kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah
mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan)
kerusakan dan kehancuran di muka bumi” [7].
Maka kematian orang-orang pelaku maksiat
merupakan sebab utama berkurangnya
kerusakan di muka bumi, sebagaimana sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak
berbuat maksiat) akan menjadikan manusia,
negeri, pepohonan dan binatang terlepas
(terselamatkan dari kerusakan karena perbuatan
maksiatnya)” [8].
Syirik dan bid’ah sebab terbesar kerusakan di
muka bumi
Dikarenakan perbuatan syirik (menyekutukan
Allah dalam beribadah) adalah dosa yang paling
besar di sisi Allah, maka kerusakan yang
ditimbulkan akibat perbuatan ini sangat besar,
bahkan perbuatan inilah yang menjadi sebab
utama kerusakan terbesar di muka bumi.
Imam Qatadah[9] dan as-Suddi berkata,
“Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah
perbuatan syirik, dan inilah kerusakan yang
paling besar” [10].
Demikian juga perbuatan bid’ah[11] dan semua
seruan dakwah yang bertentangan dengan
petunjuk Rasulullah r, pada hakekatnya
merupakan sebab terbesar terjadinya kerusakan
di muka bumi. Karena petunjuk dan kebenaran
yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah satu-satunya aturan untuk
memakmurkan dan mensejahterakan alam
semesta, sehingga semua seruan agama yang
bertentangan dengan petunjuk beliau adalah
sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi.
Oleh karena itu, imam Abu Bakar Ibnu ‘Ayyasy Al
Kuufi [12] ketika ditanya tentang makna firman
Allah Ta’ala,
}ﻭﻻ ﺗﻔﺴﺪﻭﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﺑﻌﺪ ﺇﺻﻼﺣﻬﺎ{
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…”.
Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah mengutus
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada umat manusia, (sewaktu) mereka dalam
keadaan rusak, maka Allah memperbaiki
(keadaan) mereka dengan (petunjuk yang
dibawa) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sehingga barangsiapa yang mengajak
(manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
maka dia termasuk orang-orang yang berbuat
kerusakan di muka bumi” [13].
Cara mengatasi dan memperbaiki kerusakan
di muka bumi
Karena sebab utama terjadinya kerusakan di
muka bumi adalah perbuatan maksiat dengan
segala bentuknya, maka satu-satunya cara untuk
memperbaiki kerusakan tersebut adalah dengan
bertobat dengan taubat yang nasuh [14] dan
kembali kepada Allah. Karena taubat yang nasuh
akan menghilangkan semua pengaruh buruk
perbuatan dosa yang pernah dilakuakan.
Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang telah bertobat (dengan sungguh-
sungguh) dari perbuatan dosanya, adalah seperti
orang yang tidak punya dosa (sama sekali)” [15].
Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman
Allah Ta’ala di atas,
}ﻟﻴﺬﻳﻘﻬﻢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻤﻠﻮﺍ ﻟﻌﻠﻬﻢ ﻳﺮﺟﻌﻮﻥ{
“…supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar
Ruum:41).
Artinya: agar mereka kembali (bertobat) dari
perbuatan-perbuatan (maksiat) yang berdampak
timbulnya kerusakan besar (dalam kehidupan
mereka), sehingga (dengan tobat tersebut) akan
baik dan sejahteralah semua keadaan mereka”
[16].
Dalam hal ini, sahabat yang mulia, Umar bin
Khattab radhiyallahu ‘anha pernah mengucapkan
dalam doanya: “Ya Allah, sesungguhnya tidak
akan terjadi suatu malapetaka kecuali dengan
(sebab) perbuatan dosa, dan tidak akan hilang
malapetaka tersebut kecuali dengan taubat (yang
sungguh-sungguh)…”[17].
Maka kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
mempelajari, memahami dan mengamalkannya
adalah solusi untuk menghilangkan kerusakan di
muka bumi dalam segala bentuknya, bahkan
menggantikan kerusakan tersebut dengan
kebaikan, kemaslahatan dan kesejahteraan.
Karena memang agama Islam disyariatkan oleh
Allah Ta’ala yang maha sempurna ilmu dan
hikmah-Nya [18], untuk kebaikan dan
kemaslahan hidup manusia. Allah Ta’ala
berfirman,
}ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺍﺳﺘﺠﻴﺒﻮﺍ ﻟﻠﻪ ﻭﻟﻠﺮﺳﻮﻝ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎﻛﻢ
ﻟﻤﺎ ﻳﺤﻴﻴﻜﻢ{
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan
Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu
kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) [19]
hidup bagimu” (QS al-Anfaal:24).
Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah Ta’ala
merahmatinya – berkata: “(Ayat ini
menunjukkan) bahwa kehidupan yang
bermanfaat hanyalah didapatkan dengan
memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa
yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya
maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang
baik). Meskipun dia memiliki kehidupan
(seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang
yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan
baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang
memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara
lahir maupun batin” [20].
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
}ﻭﻟﻮ ﺃﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻘﺮﻯ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻭﺍﺗﻘﻮﺍ ﻟﻔﺘﺤﻨﺎ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺮﻛﺎﺕ
ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﺄﺭﺽ ﻭﻟﻜﻦ ﻛﺬﺑﻮﺍ ﻓﺄﺧﺬﻧﺎﻫﻢ ﺑﻤﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ
ﻳﻜﺴﺒﻮﻥ{
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya” (QS al-A’raaf:96).
Artinya: Kalau saja mereka beriman dalam hati
mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan
dengan amalan shaleh, serta merealisasikan
ketakwaan kepada Allah I lahir dan batin dengan
meninggalkan semua larangan-Nya, maka niscaya
Allah akan membukakan bagi mereka (pintu-
pintu) keberkahan di langit dan bumi, dengan
menurunkan hujan deras (yang bermanfaat), dan
menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan
mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka,
(mereka hidup) dalam kebahagiaan dan rezki
yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan
maupun penderitaan, akan tetapi mereka tidak
beriman dan bertakwa maka Allah menyiksa
mereka karena perbuatan (maksiat) mereka”
[21].
Oleh karena itu, “orang-orang yang
mengusahakan perbaikan di muka bumi” yang
sebenarnya adalah orang-orang yang menyeru
manusia kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu
tentang tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada manusia.
Mereka inilah orang-orang yang menyebabkan
kemaslahatan dan kesejahteraan alam semesta
beserta isinya, tidak terkecuali hewan-hewan di
daratan maupun lautan ikut merasakan kebaikan
tersebut, sehingga mereka senantiasa
mendoakan kebaikan dari Allah untuk orang-
orang tersebut, sebagai ungkapan rasa terima
kasih kepada mereka [22].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang yang berilmu (dan
mengajarkan ilmunya kepada manusia) akan
selalu dimohonkan pengampunan dosa baginya
oleh semua makhluk yang ada di langit (para
malaikat) dan di bumi, sampai-sampai
(termasuk) ikan-ikan yang ada di lautan…”[23].
Sekaligus ini menunjukkan bahwa kematian
orang-orang berilmu yang selalu mengajak
manusia kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-
Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan
pertanda akan munculnya malapetaka dan
kerusakan besar dalam kehidupan manusia.
Karena dengan wafatnya mereka, akan
berkurang penyebaran ilmu tauhid dan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-
tengah manusia, yang ini merupakan sebab
timbulnya kerusakan dan bencana dalam
kehidupan.
Dalam hal ini, imam al-Hasan al-Bashri[24]
pernah berkata: “Kematian orang yang berilmu
merupakan kebocoran (kerusakan) dalam Islam
yang tidak bisa ditambal (diperbaiki) oleh
apapun selama siang dan malam masih terus
berganti” [25].
Penutup
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum
muslimin dalam mengajak mereka untuk selalu
kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-
Nya, yang itu merupakan sumber kebaikan dan
kebahagiaan hidup yang hakiki bagi mereka.
ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ، ﻭﺁﺧﺮ ﺩﻋﻮﺍﻧﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
Kota Kendari, 2 Rabi’ul awwal 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni,
MA
Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/576).
[2] Beliau adalah Rufai’ bin Mihran ar-Riyaahi
(wafat 90 H), seorang Tabi’in senior yang
terpercaya dalam meriwayatkan hadits
Rasulullah r , lihat “Taqriibut tahdziib” (hal. 162).
[3] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir
beliau (3/576).
[4] Kitab “Fathul Qadiir” (5/475).
[5] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 759).
[6] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-
Da-u wad dawaa’” (hal. 68).
[7] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 42).
[8] HSR al-Bukhari (6512) dan Muslim (no. 2245).
[9] Beliau adalah Qotadah bin Di’aamah As
Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H),
imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat
terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits
Rasulullah r (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal.
409).
[10] Dinukil oleh imam al-Qurthubi dalam tafsir
beliau (14/40).
[11] Yaitu mengada-adakan sesuatu yang baru
dalam agama, yang tidak dicontohkan oleh Nabi
r.
[12] Beliau adalah imam dari kalangan atba’ut
tabi’in senior, seorang ahli ibadah dan terpercaya
dalam meriwayatkan hadits Rsulullah r (wafat
194 H), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 576).
[13] “Tafsir Ibni abi Hatim Ar Raazi” (6/74) dan
“Ad Durrul mantsuur” (3/477).
[14] Yaitu taubat yang benar dan sungguh-
sungguh, sehingga menghapuskan dosa-dosa
yang lalu. Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (8/168).
[15] HR Ibnu Majah (no. 4250) dan ath-Tahbraani
dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 10281) dan
dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dan syaikh al-
Albani. Lihat “adh-Dha’iifah” (no. 615).
[16] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 643)
.
[17] Dinukil oleh imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani
dalam “Fathul Baari” (3/443).
[18] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu
tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari
kesempurnaan ilmu Allah I, lihat kitab “Taisiirul
Kariimir Rahmaan” (hal. 131).
[19] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/34).
[20] Kitab “al-Fawa-id” (hal. 121- cet. Muassasatu
ummil qura’).
[21] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 298)
.
[22] Lihat kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64)
dan “Faidhul Qadiir” (4/268).
[23] HR at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Majah
(no. 223), dinyatakan shahih oleh syaikh al-
Albani.
[24] Beliau adalah al-Hasan bin abil Hasan Yasar
al-Bashri (wafat 110 H), seorang imam besar dan
termasyhur dari kalangan tabi’in. Lihat kitab
“Taqriibut tahdziib” (hal. 160).
[25] Diriwayatkan oleh imam Ad-Darimi dalam
kitab “as-Sunan” (no. 324) dengan sanad yang
shahih.
Sumber :Jangan berbuat kerusakan di muka bumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s